ART di AS, Gaji May Setara Direktur

Jakarta, emmctv.com-Misiyah Rani hanya seorang Asisten Rumah Tangga (ART) di Amerika Serikat. Namun, upah yang ia terima sebulan lebih besar dari gaji pejabat eselon II di Indonesia.

Dari perbincangan Voa Indonesia dengan wanita yang akrap disapa May itu, terungkap jika gajinya sebulan sebesar Rp60 juta. Ia kerja lima hari dalam seminggu. Bandingkan dengan gaji pejabat eselon II atau tingkatan kepala dinas di Indonesia yang hanya berkisar Rp20-Rp25 juta saja. Ada yang menyebut upah May setara gaji direktur perusahaan menengah di Indonesia.

Misiyah Rani bersama Michael yang sudah seperti ibu dan anak (Foto: Voa Indonesia)

Dengan upah cukup fantastis tersebut, May bisa mengirimkan uang secara rutin ke keluarganya di Indonesia. “Saya kerja demi keluarga di Indonesia. Saya memperbaiki ekonomi,  memperbaiki kehidupan saudara-saudara, nggak cuma orang tua tapi juga keponakan, adik, semuanya sudah pernah saya bantu,” katanya.

May mengaku bahagia bisa bekerja sebagai ART pada keluarga dokter Gary. Selain gaji besar, ia diperlakukan seperti keluarga sendiri.  Gary dan istrinya Debbie serta sang anak Michael sudah menganggap May bagian dari keluarga mereka.  Michael bahkan menganggap  May sebagai orang tua keduanya.

“Mereka enggak membedakan pembantu dan majikan. Apapun yang mereka makan kita makan. Saat orang banyak, keluarga ini juga tak pernah menunjukkan kalau saya pembantu atau asisten rumah tangga. Saya diperlakukan seperti keluarga sendiri,” ucap May.

Perlakuan yang ia terima dari keluarga Gary berbeda jauh dengan apa yang dulu dialaminya saat bekerja di Timur Tengah.

“Sebelum di Amerika Serikat, saya kerja di Arab 10 tahun. Di Arab is so badm, nggak ada baiknya orang (majikannya). Dengan keluarga dr Gary beda. Makanya aku nggak mau ninggalin,” tuturnya.

May mengaku sudah 21 tahun bekerja dan tinggal dengan keluarga Gary. Sehari-hari ia melakukan pekerjaan rumah tangga. Terkadang pekerjaan itu dilakukan bersama dengan Debbie.

Ia bersyukur mendapatkan majikan yang baik. Padahal saat mau kerja sebagai buruh migran ke negeri Paman Sam itu, May sempat dilanda kecemasan. Ia takut tak bisa beradaptasi karena tak bisa berbahasa Inggris.

“Waktu itu saya hanya bisa  yes or no. Jadi cuma isyarat kalau mau berkomunikasi dengan majikan. Tapi beruntung mereka baik. Majikan menunjukkan do this, do this. Jadi lama-lama mulai mengerti,” kata May dengan senyum.

Tentang May yang tak bisa berbahasa Inggris tersebut di awal bekerja, Debbie mengakuinya. Namun bagi Debbie dan suaminya itu, bukan masalah.  Mereka menerima May apa adanya.

“Dia sangat pemalu, aku ingat dia hanya tahu sedikit Bahasa Inggris tapi dia punya senyum yang sangat cantik tapi sangat diam dan aku pikir aku akan coba karena aku tahu orang Indonesia sangat ramah dan baik jadi coba saja,” kata Debbie.

Kini sudah 21 tahun, Debbie berharap May tetap bersama keluarganya.  “Kami tak ingin kehilangan May. Apalagi anak kami Michael sangat menyayangi May,” ujar Debbie.

Harapan Debbie tersebut rupanya sama deng May yang tak ingin meninggalkan keluarga baik ini. “ Saya akan tetap bersama keluarga dr Gary,” ucapnya. (*/alex mellese)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *